Justisio

Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1962 Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Gaji Pegawai Perusahaan Negara

Dasar Hukum
Peraturan Terkait
Histori
Lampiran

Pasal 1

(1)
Yang dimaksudkan dengan Perusahaan ialah Badan Pimpinan Umum, Perusahaan Negara atau badan lain yang dibentuk atas dasar Undang-undang No. 19 Prp tahun 1960 tentang Perusahaan Negara.
(2)
Pegawai Perusahaan ialah anggota Direksi dan pegawai/ pekerja yang bekerja tetap pada Perusahaan.
(3)
Menteri ialah yang menguasai Perusahaan.
(4)
Direksi ialah pimpinan Perusahaan.

Pasal 2

Dengan suatu Keputusan Presiden, Peraturan Pemerintah ini dapat dinyatakan berlaku bagi sesuatu badan lain yang didirikan dengan suatu Undang-undang.

Pasal 3

Gaji pegawai Perusahaan diatur oleh Menteri menurut ketentuan-ketentuan Peraturan Pemerintah ini. BAB II. GAJI DAN JABATAN.

Pasal 4

Kepada pegawai diberikan gaji pokok serendah-rendahnya Rp. 200,- (dua ratus rupiah) dan setinggi-tingginya Rp. 4000,- (empat ribu rupiah) sebulan.

Pasal 5

Jabatan-jabatan dalam suatu Perusahaan dibagi dalam golongan I, golongan II dan golongan III.

Pasal 6

(1)
Syarat pengangkatan untuk jabatan dalam golongan I ialah ijazah sekolah rendah atau pengetahuan/pengalaman yang sederajat dengan itu.
(2)
Syarat pengangkatan untuk jabatan dalam golongan II ialah ijazah sekolah menengah atau pengetahuan/pengalaman yang sederajat dengan itu.
(3)
Syarat pengangkatan untuk jabatan dalam golongan III ialah ijazah sekolah tinggi atau pengetahuan/pengalaman yang sederajat dengan itu.
(4)
Untuk pekerjaan yang mengandung bahaya dan/atau risiko kerja dan/atau dilakukan dalam keadaan khusus, atau memerlukan keakhlian khusus, atau bakat istimewa, Menteri dengan persetujuan Menteri Pertama dapat menyimpang dari ketentuan-ketentuan dalam ayat-ayat (1), (2) dan (3) diatas.

Pasal 7

Tiap golongan dibagi dalam ruang-ruang menurut kebutuhan Perusahaan yang bersangkutan.

Pasal 8

Tiap golongan tersebut dalam mempunyai gaji pokok terendah dan tertinggi menurut ketetapan Menteri.

Pasal 9

Pembagian dalam golongan dan ruang tersebut dalam pasal- dan 7 diatas ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 10

Gaji pegawai yang ditempatkan diluar negeri ditetapkan oleh Menteri Pertama atas usul Menteri. BAB III. HAK PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN.

Pasal 11

(1)
Pegawai termasuk dalam golongan III, kecuali Direksi diangkat dan diberhentikan oleh Menteri atau badan/pejabat yang dikuasakan untuk itu oleh Menteri.
(2)
Pegawai golongan I dan II diangkat dan diberhentikan oleh Direksi. BAB IV. SUSUNAN PEGAWAI.

Pasal 12

Susunan pegawai dalam suatu Perusahaan disesuaikan dengan anggaran Perusahaan dan disahkan oleh Menteri. BAB V. TUNJANGAN

Pasal 13

Kepada pegawai diberikan tunjangan keluarga, tunjangan kemahalan umum, tunjangan perusahaan, tunjangan perusahaan tambahan dan tunjangan lain menurut ketentuan-ketentuan dalam sampai dengan peraturan ini.

Pasal 14

Tunjangan keluarga.
(1)
Kepada pegawai yang beristeri/bersuami diberikan tunjangan sebesar 25% (dua puluh lima perseratus) dari gaji pokok sebulan, sekurang-kurangnya Rp. 100,- (seratus rupiah) dengan ketentuan, bahwa jika suami-isteri kedua-duanya pegawai tunjangan ini hanya diberikan kepada pegawai yang gaji pokoknya tertinggi.
(2)
Kepada pegawai yang mempunyai anak dan atau anak angkat yang berumur kurang dari 25 (dua puluh lima) tahun dan tidak kawin atau belum pernah kawin, tidak mempunyai penghasilan sendiri serta nyata menjadi tanggungan pegawai itu sendiri, diberikan tunjangan anak sebesar 10% (sepuluh perseratus) dari gaji pokok sebulan sekurang-kurangnya Rp. 50,- (lima puluh rupiah) untuk tiap-tiap anak.
(3)
Jika suami-isteri kedua-duanya pegawai tunjangan termaksud dalam ayat (1) dan (2) hanya diberikan kepada pegawai yang pokok gajinya tertinggi.
(4)
Tunjangan anak bagi anak angkat diberikan hanya untuk seorang anak.

Pasal 15

Tunjangan kemahalan umum. Kepada pegawai diberikan tunjangan kemahalan umum sebesar 30% (tiga puluh perseratus) dari jumlah gaji pokok dan tunjangan keluarga.

Pasal 16

Tunjangan perusahaan. Kepada pegawai diberikan tunjangan perusahaan sebesar 100% (seratus peratus) dari gaji pokok sebulan.

Pasal 17

Tunjangan perusahaan tambahan. Berhubung dengan pentingnya Perusahaan, kedudukan serta tugas dalam Perusahaan maka kepada pegawai tertentu dapat diberikan tunjangan perusahaan tambahan yang jumlahnya tiap bulan tidak boleh melebihi 150% (seratus lima puluh peratus) dari gaji pokok dan yang diatur oleh Menteri Pertama atas usul Menteri. BAB VI. KETENTUAN KHUSUS.

Pasal 18

Kepada pegawai tertentu dapat diberikan emolumen-emolumen dan penghargaan-penghargaan lain yang diatur oleh Menteri Pertama atas usul Menteri.

Pasal 19

Direksi dengan persetujuan Menteri dan setelah mendengar pendapat Menteri Perburuhan dapat mengadakan peraturan upah, yang tidak merupakan gaji tetap.

Pasal 20

Kepada pegawai diberikan hak pensiun atau hak tunjangan yang bersifat pensiun yang akan diatur dengan Peraturan Pemerintah. BAB VII. KETENTUAN PERALIHAN.

Pasal 21

Kepada pegawai yang menurut ketentuan-ketentuan Peraturan Pemerintah ini mendapat gaji kurang dari yang diterimanya sekarang diberikan gaji peralihan yang sama jumlahnya dengan gajinya sebelum Peraturan Pemerintah ini berlaku. Waktu peralihan tidak boleh melebihi waktu 2 tahun.

Pasal 22

Dalam waktu peralihan itu persoalan gaji peralihan dan pembayaran pajak oleh pegawai diatur oleh Menteri Pertama atas usul Menteri.

Pasal 23

Dalam waktu peralihan sebagaimana dimaksud dalam Menteri Pertama atas usul Menteri mengatur penyesuaian gaji dari Perusahaan-perusahaan Negara yang dahulunya merupakan jawatan/badan perusahaan I.B.W atau I.C.W. dengan ketentuan- ketentuan pokok gaji Perusahaan Negara ini. BAB VIII. PENUTUP.

Pasal 24

Peraturan ini disebut Peraturan Pokok Gaji Perusahaan Negara dan berlaku pada tanggal 1 Juli 1962. Agar setiap orang dapat mengetahuinya memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatan dalam Lembaran-Negara Republik Indonesia.

Akses Terbatas

Anda melihat 24 dari 16 pasal. Masuk untuk akses penuh.