Justisio

Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2009 Tentang Tata Cara Penindakan di Bidang Cukai

Dasar Hukum
Peraturan Terkait
Histori
Lampiran

Pasal 1

Dalam Peraturan Pemerintah iniyang dimaksud dengan:
1.
Undang-Undang adalah Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai;
2.
Cukai adalah pungutan negara yang dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik yang ditetapkan dalam Undang-Undang;
3.
Penegahan adalah tindakan yang dilakukan oleh Pejabat Bea dan Cukai untuk:
a.
menunda pengeluaran, pemuatan, atau pengangkutan terhadap barang kena cukai dan/atau barang lainnya yang terkait dengan barang kena cukai; dan/atau
b.
mencegah keberangkatan sarana pengangkut.
4.
Penyegelan adalah tindakan yang dilakukan oleh Pejabat Bea dan Cukai untuk mengunci, menyegel, dan/atau melekatkan tanda pengaman.
5.
Pengangkut adalah orang, kuasanya, atau yang bertanggung jawab atas pengoperasian sarana pengangkut yang mengangkut barang dan/atau orang.
6.
Audit Cukai adalah serangkaian kegiatan pemeriksaan laporan keuangan, buku, catatan dan dokumen yang menjadi bukti dasar Pembukuan, dan dokumen lain yang berkaitan dengan kegiatan usaha, termasuk data elektronik, serta surat yang berkaitan dengan kegiatan dibidang Cukai dan/atau sediaan barang dalam rangka pelaksanaan ketentuan perundang-undangan dibidang Cukai.
7.
Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi yang meliputi dan mempengaruhi keadaan harta, utang, modal, pendapatan, dan biaya yang secara khusus menggambarkan jumlah harga perolehan dan penyerahan barang dan/atau jasa, yang kemudian diikhtisarkan dalam laporan keuangan.
8.
Pencatatan adalah proses pengumpulan dan penulisan data secara teratur tentang pemasukan, produksi, dan pengeluaran barang kena cukai, dan penerimaan, pemakaian, dan pengembalian pita cukai atau tanda pelunasan cukai lainnya.
9.
Menteri adalah Menteri Keuangan Republik Indonesia.
10.
Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Bea dan Cukai.
11.
Pejabat Bea dan Cukai adalah pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang ditunjuk dalam jabatan tertentu untuk melaksanakan tugas tertentu berdasarkan Undang-Undang.

Pasal 2

(1)
Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan penindakan dibidang Cukai untuk menjamin hak-hak negara dan dipatuhinya ketentuan peraturan perundang-undangan dibidang Cukai.
(2)
Penindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi tindakan berupa:
a.
penghentian;
b.
pemeriksaan;
c.
Penegahan;
d.
Penyegelan;dan
e.
tidak melayani pemesanan pita cukai atau tanda pelunasan cukailainnya.
(3)
Penindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dalam lingkup kewenangan administratif.

Pasal 3

(1)
Penindakan sebagaimana dimaksud dalam harus berdasarkan surat perintah penindakan dari Direktur Jenderal atau Pejabat Bea dan Cukai yang ditunjuk.
(2)
Surat perintah penindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditandatangani oleh Direktur Jenderal atau Pejabat Bea dan Cukaiyang ditunjuk.
(3)
Surat perintah penindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diperlukan dalam hal Pejabat Bea dan Cukai:
a.
melakukan pengejaran terus menerus atas orang atau Pengangkut, dan/atau sarana pengangkut yang patut diduga melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan dibidang Cukai;
b.
melakukan pengawasan secara tetap atau berkala, terhadap pabrik, tempat penyimpanan, dan/atau tempat lain, yang di dalamnya terdapat barang kena cukai;
c.
melakukan Audit Cukai kecuali Audit Cukai yang dilakukan untuk menyelidikidugaan tindak pidana Cukai; atau
d.
terdapat kekhawatiran pelaku pelanggaran akan melarikan diri atau menghilangkan barang bukti, dalam melakukan penindakan terhadap:
1.
orang atau Pengangkut, dan/atau sarana pengangkut; atau
2.
pabrik, tempat penyimpanan, dan/atau tempat lain yang di dalamnya terdapat barang kena cukai, yang berdasarkan informasi dan/atau fakta yang ditemukan diduga melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan dibidang Cukai.
(4)
Pejabat Bea dan Cukai yang melakukan penindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d melaporkan secara tertulis hasil penindakan kepada Direktur Jenderal atau Pejabat Bea dan Cukai yang ditunjuk dalam jangka waktu paling lama 1x24 (satu kali dua puluh empat) jam dengan membawa orang, Pengangkut, dan/atau sarana pengangkut berikut barang buktipelanggaran ke Kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Pasal 4

Surat perintah penindakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) paling sedikit memuat:
a.
nama Pejabat Bea dan Cukai yang diperintahkan;
b.
alasan dan tujuan penindakan;
c.
jangka waktu berlakunya surat perintah penindakan; dan
d.
kewajiban membuat laporan hasilpenindakan.

Pasal 5

Pejabat Bea dan Cukai wajib menunjukkan surat perintah penindakan kepada pihak yang terhadapnya dilakukan penindakan.

Pasal 6

(1)
Pejabat Bea dan Cukaiberwenang untuk menghentikan sarana pengangkut serta barang kena cukai dan/atau barang lainnya yang terkait dengan barang kena cukai yang berada disarana pengangkut.
(2)
Penghentian sebagaimana din aksud pada ayat (1) dilakukan secara selektif berdasarkan inform asiadanya dugaan pelanggaran terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan dibidang Cukai.

Pasal 7

(1)
Atas perintah atau permintaan dari Pejabat Bea dan Cukai sebagain ana din aksud dalam ayat (1), Pengangkutwajib:
a.
menghentikan sarana pengangkut atau kegiatan mengangkutnya; dan
b.
menunjukkan dokum en cukai dan/atau dokum en pelengkap cukai yang diwajibkan menurut Undang-Undang.
(2)
Pengangkut yang tidak memenuhi kewajiban sebagain ana din aksud pada ayat (1), dikenai sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Cukai.

Pasal 8

Penghentian sebagain ana dimaksud dalam dan kewajiban Pengangkut sebagain ana din aksud dalam segera dilanjutkan dengan pemeriksaan oleh Pejabat Bea dan Cukai.

Pasal 9

(1)
Pejabat Bea dan Cukaiberwenang memeriksa:
a.
pabrik, tem pat penyimpanan, atau tempat lain yang digunakan untuk menyin pan barang kena cukaidan/atau barang lainnya yang terkait dengan barang kena cukai, yang belum dilunasi cukainya atau mem peroleh pem bebasan Cukai;
b.
bangunan atau tem pat lain yang secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan pabrik, tem pat penyin panan, atau tem pat lain sebagain ana din aksud dalam hurufa; dan/atau
c.
barang kena cukai dan/atau barang lainnya yang terkait dengan barang kena cukai yang berada di pabrik, bangunan, atau tem pat sebagain ana din aksud dalam hurufa dan hurufb.
(2)
Dalam melakukan pemeriksaan barang kena cukai dan/atau barang lainnya sebagain ana din aksud pada ayat (1) huruf c, Pejabat Bea dan Cukai berwenang meminta catatan sediaan barang, dokum en cukai, dan/atau dokum en pelengkap cukai yang wajib diselenggarakan berdasarkan Undang-Undang.
(3)
Apabila dari hasil pemeriksaan ditemukan adanya pelanggaran ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Cukai, Pejabat Bea dan Cukai menyegel pabrik, bangunan, tem pat, dan/atau barang kena cukai dan/atau barang lain yang terkait dengan barang kena cukai sebagain ana din aksud pada ayat (1).

Pasal 10

(1)
Pejabat Bea dan Cukaiberwenang m em eriksa:
a.
sarana pengangkut; dan/atau
b.
barang kena cukai dan/atau barang lainnya yang terkait dengan barang kena cukai yang berada di sarana pengangkut.
(2)
Pemeriksaan tidak dilakukan terhadap sarana pengangkut yang disegel oleh dinas pos atau penegak hukum lain.
(3)
Apabila diperlukan dalam rangka pemeriksaan, sarana pengangkut yang telah disegel dinas pos atau penegak hukum lainnya dapat diperiksa oleh Pejabat Bea dan Cukai secara bersama-sama dengan dinas pos atau penegak hukum lainnya, dengan terlebih dahulu sarana pengangkut yang telah disegel tersebut dilakukan Penyegelan.
(4)
Pejabat Bea dan Cukai berwenang membawa Pengangkut, sarana pengangkut, barang kena cukai dan/atau barang lainnya yang terkait dengan barang kena cukai yang dibawa Pengangkut dan/atau sarana pengangkut ke kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai atau ke tempat lain guna memudahkan pemeriksaan.
(5)
Apabila dari hasil pemeriksaan ditemukan adanya pelanggaran ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Cukai, Pejabat Bea dan Cukai menegah sarana pengangkut, barang kena cukai dan/atau barang lain yang terkait dengan barang kena cukaiyang dibawanya sebagain ana din aksud pada ayat (1).

Pasal 11

(1)
Pejabat Bea dan Cukaiberwenang memeriksa:
a.
tempat usaha penyalur, tempat penjualan eceran, atau tempat lain yang bukan rumah tinggal, yang didalam nya terdapat barang kena cukai; dan/atau
b.
barang kena cukai dan/atau barang lainnya yang terkait dengan barang kena cukai yang berada di tempat sebagain ana din aksud dalam hurufa.
(2)
Dalam melakukan pemeriksaan barang kena cukai dan/atau barang lainnya yang terkait dengan barang kena cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, Pejabat Bea dan Cukai berwenang meminta catatan sediaan barang, dokumen cukai, dan/atau dokumen pelengkap cukai yang wajib diselenggarakan berdasarkan Undang-Undang.
(3)
Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan ditemukan adanya pelanggaran ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Cukai, Pejabat Bea dan Cukai menyegel tempat barang kena cukai dan/atau barang lain yang terkait dengan barang kena cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal 12

(1)
Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan Audit Cukai terhadap pengusaha pabrik, pengusaha tempat penyimpanan, importir barang kena cukai, penyalur, dan pengguna barang kena cukai yang mendapat fasilitas pembebasan Cukai sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang.
(2)
Dalam melaksanakan Audit Cukai, Pejabat Bea dan Cukai berwenang:
a.
meminta laporan keuangan, buku, catatan dan dokumen yang menjadi bukti dasar pembukuan, dan dokumen lain yang berkaitan dengan kegiatan usaha, termasuk data elektronik serta surat yang berkaitan dengan kegiatan di bidang Cukai;
b.
meminta keterangan lisan dan/atau tertulis kepada pengusaha pabrik, pengusaha tempat penyimpanan, importir barang kena cukai, penyalur, pengguna barang kena cukai yang mendapatkan fasilitas pembebasan Cukai sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang, dan/atau pihak lain yang terkait;
c.
memasuki bangunan atau ruangan tempat untuk menyimpan laporan keuangan, buku, catatan dan dokumen yang menjadi bukti dasar pembukuan, dan dokumen lain yang berkaitan dengan kegiatan usaha, termasuk sarana/media penyimpanan data elektronik, pita cukai atau tanda pelunasan cukai lainnya, sediaan barang, dan/atau barang yang dapat memperuntukkan tentang keadaan kegiatan usaha dan/atau tempat lain yang dianggap penting, serta melakukan pemeriksaan di tempat tersebut; atau
d.
melakukan tindakan pengamanan yang dipandang perlu terhadap bangunan atau ruangan sebagaimana dimaksud dalam huruf c.
(3)
Apabila berdasarkan hasil Audit Cukai ditemukan adanya pelanggaran ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Cukai, Pejabat Bea dan Cukai dapat menyegel bangunan atau ruangan yang digunakan oleh pengusaha pabrik, pengusaha tempat penyimpanan, importir barang kena cukai, penyalur, dan pengguna barang kena cukai yang mendapatkan fasilitas pembebasan Cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal 13

(1)
Pejabat Bea dan Cukai berwenang menegah:
a.
sarana pengangkut; dan/atau
b.
barang kena cukai dan/atau barang lain yang terkait dengan barang kena cukai,

Akses Terbatas

Anda melihat 13 dari 29 pasal. Masuk untuk akses penuh.