Justisio

Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 113 Tahun 2024 Tentang Pemberitahuan Pabean Dalam Rangka Pemasukan Dan Pengeluaran Barang Ke Dan Dari Kawasan Yang Telah Ditetapkan Sebagai Kawasan Perdagangan Bebas Dan Pelabuhan Bebas

Dasar Hukum
Peraturan Terkait
Histori
Lampiran

Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1.
Daerah Pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan, dan ruang udara di atasnya, serta tempat-tempat tertentu di zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen yang di dalamnya berlaku Undang-Undang Kepabeanan.
2.
Kawasan yang Ditetapkan sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas yang selanjutnya disebut Kawasan Bebas adalah suatu kawasan yang berada dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terpisah dari Daerah Pabean sehingga bebas dari pengenaan bea masuk, pajak pertambahan nilai, pajak penjualan atas barang mewah, dan cukai.
3.
Kawasan Pabean adalah kawasan dengan batas tertentu di pelabuhan laut, bandar udara, atau tempat lain yang ditetapkan untuk lalu lintas barang yang sepenuhnya berada di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
4.
Kantor Pabean adalah kantor dalam lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tempat dipenuhinya Kewajiban Pabean sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Kepabeanan.
5.
Orang adalah orang perseorangan atau badan hukum.
6.
Kewajiban Pabean adalah semua kegiatan di bidang kepabeanan yang wajib dilakukan untuk memenuhi ketentuan dalam Undang-Undang Kepabeanan.
7.
Data Elektronik adalah informasi atau rangkaian informasi yang disusun dan/atau dihimpun untuk kegunaan khusus yang diterima, direkam, dikirim, disimpan, diproses, diambil kembali, atau diproduksi secara elektronik dengan menggunakan komputer atau perangkat pengolah data elektronik, optikal atau cara lain yang sejenis.
8.
Sistem Komputer Pelayanan yang selanjutnya disingkat SKP adalah sistem komputer yang digunakan oleh Kantor Pabean dalam rangka pengawasan dan pelayanan kepabeanan.
9.
Sistem Indonesia National Single Window yang selanjutnya disingkat SINSW adalah sistem elektronik yang mengintegrasikan sistem dan/atau informasi berkaitan dengan proses penanganan dokumen kepabeanan, dokumen kekarantinaan, dokumen perizinan, dokumen kepelabuhanan/kebandarudaraan, dan dokumen lain, yang terkait dengan ekspor dan/atau impor, yang menjamin keamanan data dan informasi serta memadukan alur dan proses informasi antar sistem internal secara otomatis.
10.
Tempat Penimbunan Sementara yang selanjutnya disingkat TPS adalah bangunan dan/atau lapangan atau tempat lain yang disamakan dengan itu di Kawasan Pabean untuk menimbun barang, sementara menunggu pemuatan, atau pengeluarannya.
11.
Tempat Lain yang Diperlukan Sama dengan TPS adalah bangunan dan/atau lapangan atau tempat yang disamakan dengan itu yang berada di luar Kawasan Pabean untuk menimbun barang sementara menunggu pemuatan atau pengeluarannya.
12.
Pemberitahuan Pabean adalah pernyataan yang dibuat oleh Orang dalam rangka melaksanakan Kewajiban Pabean dalam bentuk dan syarat yang ditetapkan dalam ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang kepabeanan.
13.
Pemberitahuan Pabean Free Trade Zone yang selanjutnya disingkat PPFTZ adalah dokumen Pemberitahuan Pabean yang digunakan sebagai Pemberitahuan Pabean pemasukan barang ke Kawasan Bebas atau pengeluaran barang dari Kawasan Bebas.
14.
Dokumen Pelengkap Pabean adalah semua dokumen yang digunakan sebagai pelengkap Pemberitahuan Pabean, misalnya invoice, packing list, bill of lading (B/L)/airway bill (AWB), dan/atau dokumen lainnya yang dipersyaratkan.
15.
Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut yang selanjutnya disingkat RKSP adalah pemberitahuan tentang rencana kedatangan sarana pengangkut yang disampaikan oleh pengangkut ke Kantor Pabean.
16.
Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut yang selanjutnya disebut Inward Manifest adalah daftar barang niaga yang diangkut oleh sarana pengangkut melalui laut, udara, dan darat pada saat memasuki Kawasan Pabean atau tempat lain setelah mendapat izin Kepala Kantor Pabean yang mengawasi tempat tersebut.
17.
Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut yang selanjutnya disebut Outward Manifest adalah daftar barang niaga yang diangkut oleh sarana pengangkut melalui laut, udara, dan darat pada saat meninggalkan Kawasan Pabean atau tempat lain setelah mendapat izin Kepala Kantor Pabean yang mengawasi tempat tersebut.
18.
Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Bea dan Cukai.
19.
Pejabat Bea dan Cukai adalah pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang ditunjuk dalam jabatan tertentu untuk melaksanakan tugas berdasarkan Undang-Undang Kepabeanan.
20.
Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan yang selanjutnya disingkat PPJK adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pengurusan pemenuhan kewajiban pabean untuk dan atas kuasa pengusaha di Kawasan Bebas.

Pasal 2

(1)
Pemenuhan Kewajiban Pabean dilakukan di Kantor Pabean dengan menggunakan Pemberitahuan Pabean.
(2)
Pemberitahuan Pabean sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan dalam bentuk Data Elektronik melalui SKP yang terhubung dengan SINSW.
(3)
Dalam hal SKP mengalami gangguan operasional atau SKP belum tersedia, Pemberitahuan Pabean sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat disampaikan dalam bentuk tulisan di atas formulir.
(4)
Pemberitahuan Pabean yang disampaikan dalam bentuk Data Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan dalam bentuk tulisan di atas formulir sebagaimana dimaksud pada ayat (3) merupakan alat bukti yang sah menurut Undang-Undang Kepabeanan.

Pasal 3

Pemberitahuan Pabean sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), meliputi:
a.
Pemberitahuan Pabean dalam rangka pengangkutan barang;
b.
Pemberitahuan Pabean dalam rangka pemasukan barang ke Kawasan Bebas; dan
c.
Pemberitahuan Pabean dalam rangka pengeluaran barang dari Kawasan Bebas.

Pasal 4

(1)
Pemberitahuan Pabean dalam rangka pengangkutan barang sebagaimana dimaksud dalam huruf a meliputi:
a.
Pemberitahuan Pabean dalam rangka pengangkutan barang ke Kawasan Bebas menggunakan RKSP dan Inward Manifest; dan
b.
Pemberitahuan Pabean dalam rangka pengangkutan barang dari Kawasan Bebas menggunakan Outward Manifest.
(2)
Pemberitahuan Pabean dalam rangka pemasukan barang ke Kawasan Bebas sebagaimana dimaksud dalam huruf b meliputi:
a.
Pemberitahuan Pabean dalam rangka pemasukan barang ke Kawasan Bebas dari luar Daerah Pabean;
b.
Pemberitahuan Pabean dalam rangka pemasukan barang ke Kawasan Bebas dari tempat penimbunan berikut;
c.
Pemberitahuan Pabean dalam rangka pemasukan barang ke Kawasan Bebas dari kawasan ekonomi khusus;
d.
Pemberitahuan Pabean dalam rangka pemasukan barang ke Kawasan Bebas dari tempat lain dalam Daerah Pabean;
e.
Pemberitahuan Pabean dalam rangka pemasukan barang penumpang atau awak sarana pengangkut ke Kawasan Bebas; dan
f.
Pemberitahuan Pabean dalam rangka pemasukan barang kiriman ke Kawasan Bebas.
(3)
Pemberitahuan Pabean dalam rangka pengeluaran barang dari Kawasan Bebas sebagaimana dimaksud dalam huruf c meliputi:
a.
Pemberitahuan Pabean dalam rangka pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke luar Daerah Pabean;
b.
Pemberitahuan Pabean dalam rangka pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke Kawasan Bebas lainnya;
c.
Pemberitahuan Pabean dalam rangka pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke tempat penimbunan berikut;
d.
Pemberitahuan Pabean dalam rangka pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke kawasan ekonomi khusus;
e.
Pemberitahuan Pabean dalam rangka pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke tempat lain dalam Daerah Pabean;
f.
Pemberitahuan Pabean dalam rangka pengeluaran barang penumpang atau awak sarana pengangkut dari Kawasan Bebas; dan
g.
Pemberitahuan Pabean dalam rangka pengeluaran barang kiriman dari Kawasan Bebas.

Pasal 5

Untuk kepentingan data dan analisis statistik:
a.
pemasukan barang ke Kawasan Bebas dari luar Daerah Pabean dicatat sebagai impor; dan
b.
pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke luar Daerah Pabean dicatat sebagai ekspor.

Pasal 6

(1)
Bentuk, isi dan petunjuk pengisian Pemberitahuan Pabean dalam rangka pengangkutan barang ke dan dari Kawasan Bebas dengan menggunakan:
a.
RKSP dan Inward Manifest sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a; dan
b.
Outward Manifest sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai pemberitahuan pabean.
(2)
Bentuk, isi, dan petunjuk pengisian Pemberitahuan Pabean dalam rangka pemasukan barang ke Kawasan Bebas dari tempat penimbunan berikat sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf b dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai pemberitahuan pabean.
(3)
Bentuk, isi, dan petunjuk pengisian Pemberitahuan Pabean dalam rangka pemasukan barang ke Kawasan Ekonomi Khusus sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf c dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai kawasan ekonomi khusus.
(4)
Bentuk, isi, dan petunjuk pengisian Pemberitahuan Pabean dalam rangka:
a.
pemasukan barang penumpang atau awak sarana pengangkut ke Kawasan Bebas sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf e; dan
b.
pengeluaran barang penumpang atau awak sarana pengangkut dari Kawasan Bebas sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf f, dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(5)
Bentuk, isi, dan petunjuk pengisian Pemberitahuan Pabean dalam rangka:
a.
pemasukan barang kiriman ke Kawasan Bebas sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf f; dan
b.
pengeluaran barang kiriman dari Kawasan Bebas sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf g, dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 7

Pemberitahuan Pabean dalam rangka:
a.
pemasukan barang ke Kawasan Bebas dari luar Daerah Pabean sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf a;
b.
pemasukan barang ke Kawasan Bebas dari tempat lain dalam Daerah Pabean sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf d;
c.
pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke luar Daerah Pabean sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf a;
d.
pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke Kawasan Bebas lainnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf b;
e.
pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke tempat penimbunan berikat sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf c;
f.
pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke kawasan ekonomi khusus sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf d; dan
g.
pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke tempat lain dalam Daerah Pabean sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf e, disampaikan dengan PPFTZ.

Pasal 8

PPFTZ untuk pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke luar Daerah Pabean sebagaimana dimaksud dalam huruf c merupakan pemberitahuan pabean ekspor.

Pasal 9

PPFTZ memuat elemen data sebagai berikut:
a.
identitas Pemberitahuan Pabean;
b.
data Orang yang terkait dengan pemasukan dan pengeluaran barang ke dan dari Kawasan Bebas;
c.
data barang yang dimasukkan atau dikeluarkan ke dan dari Kawasan Bebas;
d.
data Dokumen Pelengkap Pabean;
e.
data transaksi perdagangan; dan
f.
data lainnya yang terkait dengan pemasukan dan pengeluaran barang ke dan dari Kawasan Bebas.

Pasal 10

(1)
PPFTZ dibuat dan disampaikan oleh pengusaha.
(2)
Pengusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pengusaha yang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai penyelenggaraan Kawasan Bebas dapat memasukkan dan/atau mengeluarkan barang ke dan dari Kawasan Bebas.
(3)
Dalam hal penyampaian PPFTZ sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dilakukan sendiri, pengusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat menguasakannya kepada PPJK.
(4)
PPFTZ yang disampaikan oleh pengusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (2) atau PPJK sebagaimana dimaksud pada ayat (3), wajib ditandatangani oleh orang yang berwenang sebagai pemberitahu.
(5)
Penandatanganan PPFTZ sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan dengan cara:
a.
tanda tangan biasa; atau
b.
pengesahan elektronik atau tanda tangan digital.

Pasal 11

(1)
PPFTZ wajib diisi secara lengkap dengan menggunakan Bahasa Indonesia, huruf latin, dan angka Arab.
(2)
Pengisian PPFTZ sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menggunakan Bahasa Inggris dalam hal:
a.
penyebutan nama tempat atau alamat;
b.
penyebutan nama Orang;
c.
penyebutan uraian jenis barang yang tidak ada padanan katanya dalam Bahasa Indonesia; dan
d.
penyebutan uraian jenis barang yang ada padanan katanya dalam Bahasa Indonesia, tetapi perlu menyebutkan istilah teknis dalam Bahasa Inggris terkait dengan istilah yang dikenal secara internasional.

Pasal 12

(1)
Pengusaha atau PPJK sebagaimana dimaksud dalam wajib memberitahukan jumlah barang yang digunakan dalam PPFTZ dengan menggunakan jenis satuan barang.
(2)
Pengusaha atau PPJK sebagaimana dimaksud dalam wajib memberitahukan jumlah barang komoditas tertentu yang digunakan dalam PPFTZ dengan menggunakan jenis satuan barang.
(3)
Jenis satuan barang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai pemberitahuan pabean.

Pasal 13

(1)
Pejabat Bea dan Cukai melakukan penelitian dokumen terhadap PPFTZ yang disampaikan pengusaha atau PPJK sebagaimana dimaksud dalam .
(2)
Tata cara penelitian dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang kepabeanan.

Pasal 14

(1)
Pengusaha atau PPJK sebagaimana dimaksud dalam dapat mengajukan permohonan perubahan terhadap kesalahan data PPFTZ yang telah mendapatkan nomor dan tanggal pendaftaran sepanjang kesalahan tersebut terjadi karena kekhilafan yang nyata.
(2)
Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada Kepala Kantor Pabean melalui SKP terhadap PPFTZ untuk:
a.
pemasukan barang ke Kawasan Bebas dari luar Daerah Pabean sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf a;
b.
pemasukan barang ke Kawasan Bebas dari tempat lain dalam Daerah Pabean sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf d;
c.
pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke Kawasan Bebas lainnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf b;
d.
pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke tempat penimbunan berikat sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf c;
e.
pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke kawasan ekonomi khusus sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf d; dan
f.
pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke tempat lain dalam Daerah Pabean sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf e.
(3)
Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) minimal memuat informasi mengenai:
a.
nomor dan tanggal pendaftaran PPFTZ;
b.
identitas pengusaha;
c.
elemen data yang dimintakan perubahan; dan
d.
alasan perubahan data PPFTZ.
(4)
Pengusaha atau PPJK sebagaimana dimaksud dalam mengajukan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan dilampiri bukti pendukung.
(5)
Kepala Kantor Pabean melakukan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan memberikan persetujuan atau penolakan perubahan data PPFTZ dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja terhitung setelah permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterima secara lengkap.
(6)
Kepala Kantor Pabean menolak permohonan perubahan data PPFTZ sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam hal:
a.
barang telah dikeluarkan dari Kawasan Pabean atau Tempat Lain yang Diperlakukan Sama dengan TPS;
b.
kesalahan data tersebut merupakan temuan Pejabat Bea dan Cukai; atau
c.
PPFTZ telah mendapatkan penetapan oleh Pejabat Bea dan Cukai atau SKP.

Pasal 15

(1)
Pengusaha atau PPJK sebagaimana dimaksud dalam dapat melakukan perubahan terhadap kesalahan data PPFTZ melalui SKP sepanjang status barang belum dimasukkan ke Kawasan Pabean atau Tempat Lain yang Diperlakukan Sama dengan TPS tempat pemuatan barang (gate in) dan/atau belum mendapatkan penetapan oleh Pejabat Bea dan Cukai terhadap PPFTZ untuk:
a.
pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke Kawasan Bebas lainnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf b;
b.
pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke tempat penimbunan berikut sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf c;
c.
pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke kawasan ekonomi khusus sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf d; dan
d.
pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke tempat lain dalam Daerah Pabean sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf e.
(2)
Perubahan data PPFTZ sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan terhadap semua elemen data, kecuali:
a.
identitas Orang dan/atau pengusaha;
b.
kode Kantor Pabean;
c.
jenis pemberitahuan;
d.
jumlah dan jenis barang; dan/atau
e.
data yang menyebabkan perubahan nilai pungutan.

Pasal 16

(1)
Pengusaha atau PPJK sebagaimana dimaksud dalam dapat mengajukan permohonan pembatalan PPFTZ yang telah mendapatkan nomor dan tanggal pendaftaran kepada Kepala Kantor Pabean melalui SKP terhadap PPFTZ untuk:
a.
pemasukan barang ke Kawasan Bebas dari luar Daerah Pabean sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf a;
b.
pemasukan barang ke Kawasan Bebas dari tempat lain dalam Daerah Pabean sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf d;
c.
pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke Kawasan Bebas lainnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf b;
d.
pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke tempat penimbunan berikut sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf c;
e.
pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke kawasan ekonomi khusus sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf d; dan
f.
pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke tempat lain dalam Daerah Pabean sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf e.
(2)
Pembatalan terhadap PPFTZ sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan dalam hal:
a.
terjadi kesalahan pengiriman data PPFTZ ke Kantor Pabean lain yang bukan merupakan Kantor Pabean tempat pemasukan atau pengeluaran barang;
b.
penyampaian data PPFTZ atas pemasukan atau pengeluaran barang yang sama dilakukan lebih dari 1 (satu) kali;
c.
Pemberitahuan Pabean dalam rangka pengangkutan barang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) atas barang yang diberitahukan dalam PPFTZ dibatalkan;
d.
barang yang telah diajukan PPFTZ tidak jadi dibongkar atau dimuat di Kawasan Pabean atau

Akses Terbatas

Anda melihat 16 dari 17 pasal. Masuk untuk akses penuh.