(1)Persetujuan Pelepasan Kawasan Hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan Kehutanan dilakukan pada Kawasan HPK.
(2)Kawasan HPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi kriteria:
a.fungsi HPK sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
b.tidak dibebani Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan, Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan dan/atau persetujuan lainnya dari Menteri, serta tidak berada pada Kawasan Hutan yang ditetapkan sebagai KHDTK dan KHKP;
c.tidak produktif, kecuali pada provinsi yang sudah tidak tersedia lagi Kawasan HPK yang tidak produktif; dan
d.kriteria Hutan tidak produktif ditentukan berdasarkan dominasi tutupan lahan tidak berhutan lebih dari 70% (tujuh puluh persen) yang terdiri tutupan lahan antara lain semak belukar, lahan kosong, dan kebun campur.
(3)Dalam hal Persetujuan Pelepasan Kawasan Hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kegiatan:
a.Proyek Strategis Nasional;
b.pemulihan ekonomi nasional;
c.pengadaan tanah untuk ketahanan pangan (food estate) dan energi;
d.pengadaan tanah untuk bencana alam;
e.pengadaan tanah objek reforma agraria; dan
f.kegiatan usaha yang telah terbangun dan memiliki perizinan di dalam Kawasan Hutan sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, Persetujuan Pelepasan Kawasan Hutan dapat dilakukan pada Kawasan HPK dan/atau Kawasan Hutan Produksi Tetap.
(4)Persetujuan Pelepasan Kawasan Hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d dapat dilakukan pada Kawasan Hutan Produksi yang produktif dan atau tidak produktif.
(5)Persetujuan pelepasan Kawasan Hutan yang dimohonkan oleh Kepala KPB PB, untuk kegiatan pada ayat (3) huruf a sampai huruf e, dilakukan berdasarkan penetapan kegiatan oleh Pemerintah.
(6)Pada provinsi yang sudah tidak tersedia lagi Kawasan HPK yang tidak produktif sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c hanya dapat dimohon oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah.
(7)Persetujuan Pelepasan Kawasan Hutan harus mempertahankan kecukupan luas Kawasan Hutan dan penutupan Hutan provinsi.
(8)Persetujuan Pelepasan Kawasan Hutan memperhatikan daya dukung dan daya tampung Kawasan Hutan tetap layak kelola.