Justisio

Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1959 Tentang Pengeluaran Kertas Perbendaharaan untuk Tahun 1959

Dasar Hukum
Peraturan Terkait
Histori
Lampiran

Pasal 1

Selain kertas perbendaharaan yang dikeluarkan berdasarkan pasal- sampai 9 dari Peraturan Pemerintah ini, dapat bersamaan beredar kertas perbendaharaan setinggi-tingginya dua milyard rupiah.

Pasal 2

Surat-surat perbendaharaan dan promes-promes perbendaharaan terdiri atas lembaran-lembaran dengan harga Rp. 1.000,-, Rp. 5.000,-, Rp. 10.000,-, Rp. 25.000,- Rp. 50.000,-, Rp. 100.000,-, Rp. 500.000,-, Rp. 1.000.000,-, Rp. 5.000.000,-, dan Rp. 10.000.000,-. Jika perlu, dapat juga dikeluarkan surat-surat perbendaharaan dan promes-promes perbendaharaan dalam lembaran-lembaran dengan harga yang lebih tinggi.

Pasal 3

(1)
Surat-surat perbendaharaan berjangka paling lama lima tahun.
(2)
Promes-promes perbendaharaan berjangka sekurang-kurangnya satu bulan dan paling lama sebelas bulan.

Pasal 4

(1)
Surat-surat perbendaharaan dikeluarkan dengan bunga setinggi-tingginya 5% setahun.
(2)
Promes-promes perbendaharaan dikeluarkan dengan nilai serendah-rendahnya 98% untuk promes dari sembilan bulan, dan untuk promes yang berjangka lain dengan nilai yang seimbang seperti di atas.

Pasal 5

Kertas perbendaharaan dapat dikeluarkan dengan jalan penempatan di bawah tangan menurut syarat-syarat tersebut dipasal 6.

Pasal 6

Menteri Keuangan diberi kuasa pada pengeluaran kertas perbendaharaan di bawah tangan jika dianggap perlu mengadakan syarat dan dengan memasukkan chlausule yang bersangkutan dalam keterangan bersama yang akan dibuat menurut ayat (4) Ordonansi surat perbendaharaan 1928 (Staatsblad 1928 No. 21) menetapkan, bahwa kertas perbendaharaan tidak dapat dijual atau digadaikan pada Bank Indonesia, dan terhadap kertas perbendaharaan ini, jika dianggap perlu, dalam keterangan bersama tersebut mencantumkan syara-syarat.
1.
bahwa kertas perbendaharaan yang dikeluarkan tidak dapat dilunasi sebelum jatuh tempo;
2.
bahwa kertas perbendaharaan yang dikeluarkan dapat dipakai sebagai penyetoran sejumlah harga sepenuhnya dalam pendaftaran untuk pinjam-pinjaman umum yang memberatkan Anggaran Belanja Negara.

Pasal 7

Tergantung pada kebutuhan, segala sesuatu berhubung dengan keadaan hutang Negara pada Bank Indonesia, dapat dikeluarkan, di atas jumlah tersebut dalam , kertas perbendaharaan sebagai jaminan uang muka yang diberikan kepada Negara berdasarkan ayat (1) Undang-undang Pokok Bank Indonesia tahun 1953 sebagaimana telah diubah. Dengan cara yang sama seperti termaksud dalam ayat di atas, kertas-kertas perbendaharaan dapat dikeluarkan sebagai jaminan uang muka yang diberikan kepada Negara q.q. kepada Dana Devisen atas dasar Ordonansi Alat-alat Pembayaran Luar Negeri 1940 (Staatsblad 1940 No. 205);

Pasal 8

(1)
Menteri Keuangan diberi kuasa untuk tiap-tiap kali dengan syarat-syarat yang ditentukan tersendiri, mengeluarkan surat-surat perbendaharaan dan promes-promes perbendaharaan, kertas-kertas kredit-kredit pada Bank Indonesia untuk pihak ketiga.
(2)
Pengeluaran surat perbendaharaan termaksud dalam ayat (1) dapat dilakukan setelah jaminan itu disetujui dalam anggaran belanja.

Pasal 9

Di samping kertas perbendaharaan yang dimaksud dalam dan 8 dapat dikeluarkan kertas perbendaharaan setinggi-tingginya dua setengah milyard rupiah berhubung dengan turut-sertanya Indonesia dalam Internasional Monetary Fund dan Internasional Bank for Reconstruction and Development.

Pasal 10

Menteri Keuangan diberi kuasa untuk, dengan mengindahkan peraturan-peraturan yang diberikan tentang itu, mengambil tindakan seperlunya dalam mengatur dan melaksanakan selanjutnya pengeluaran kertas perbendaharaan termaksud dalam Peraturan Pemerintah ini, termasuk juga penandatanganan akte-akte mengenai pengeluaran itu.

Pasal 11

Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1959. Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatan dalam Lembaran-Negara Republik Indonesia.