Justisio

Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 Tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Dasar Hukum
Peraturan Terkait
Histori
Lampiran

Pasal 1

Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1.
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang selanjutnya disingkat SMK3 adalah bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.
2.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang selanjutnya disingkat K3 adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.
3.
Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.
4.
Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.
5.
Perusahaan adalah:
a.
setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak, milik orang perseorangan, milik persekutuan, atau milik badan hukum, baik milik swasta maupun milik negara yang mempekerjakan pekerja/buruh dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.
b.
usaha-usaha sosial dan usaha-usaha lain yang mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.
6.
Pengusaha adalah:
a.
orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri;
b.
orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya;
c.
orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia.
7.
Audit SMK3 adalah pemeriksaan secara sistematis dan independen terhadap pemenuhan kriteria yang telah ditetapkan untuk mengukur suatu hasil kegiatan yang telah direncanakan dan dilaksanakan dalam penerapan SMK3 di perusahaan.
8.
Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dibidang ketenagakerjaan.

Pasal 2

Penerapan SMK3 bertujuan untuk:
a.
meningkatkan efektifitas perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja yang terencana, terukur, terstruktur, dan terintegrasi;
b.
mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dengan melibatkan unsur manajemen, pekerja/buruh, dan/atau serikat pekerja/serikat buruh; serta
c.
menciptakan tempat kerja yang aman, nyaman, dan efisien untuk mendorong produktivitas.

Pasal 3

(1)
Penerapan SMK3 dilakukan berdasarkan kebijakan nasional tentang SMK3.
(2)
Kebijakan nasional tentang SMK3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tertuang dalam Lampiran I, II, dan III sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 4

(1)
Kebijakan nasional tentang SMK3 sebagaimana dimaksud dalam , sebagai pedoman perusahaan dalam menerapkan SMK3.
(2)
Instansi pembina sektor usaha dapat mengembangkan pedoman penerapan SMK3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan kebutuhan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. 2012, No.100 4

Pasal 5

(1)
Setiap perusahaan wajib menerapkan SMK3 di perusahaannya.
(2)
Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku bagi perusahaan:
a.
memperkerjakan pekerja/buruh paling sedikit 100 (seratus) orang; atau
b.
mempunyai tingkat potensi bahaya tinggi.
(3)
Ketentuan mengenai tingkat potensi bahaya tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4)
Pengusaha dalam menerapkan SMK3 wajib berpedoman pada Peraturan Pemerintah ini dan ketentuan peraturan perundang-undangan serta dapat memperhatikan konvensi atau standar internasional.

Pasal 6

(1)
SMK3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi:
a.
penetapan kebijakan K3;
b.
perencanaan K3;
c.
pelaksanaan rencana K3;
d.
pemantauan dan evaluasi kinerja K3; dan
e.
peninjauan dan peningkatan kinerja SMK3.
(2)
Penerapan SMK3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tertuang dalam pedoman yang tercantum dalam Lampiran I sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 7

(1)
Penetapan kebijakan K3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dilaksanakan oleh pengusaha.
(2)
Dalam menyusun kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pengusaha paling sedikit harus:
a.
melakukan tinjauan awal kondisi K3 yang meliputi:
1.
identifikasi potensi bahaya, penilaian dan pengendalian risiko;
2.
perbandingan penerapan K3 dengan perusahaan dan sektor lain yang lebih baik;
3.
peninjauan sebab akibat kejadian yang membahayakan;
4.
kompensasi dan gangguan serta hasil penilaian sebelumnya yang berkaitan dengan keselamatan; dan
5.
penilaian efisiensi dan efektivitas sumber daya yang disediakan.
b.
memperhatikan peningkatan kinerja manajemen K3 secara terus-menerus; dan
c.
memperhatikan masukan dari pekerja/buruh dan/atau serikat pekerja/serikat buruh.
(3)
Kebijakan K3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat:
a.
visi;
b.
tujuan perusahaan;
c.
komitmen dan tekad melaksanakan kebijakan; dan
d.
kerangka dan program kerja yang mencakup kegiatan perusahaan secara menyeluruh yang bersifat umum dan/atau operasional.

Pasal 8

Pengusaha harus menyebarluaskan kebijakan K3 yang telah ditetapkan kepada seluruh pekerja/buruh, orang lain selain pekerja/buruh yang berada di perusahaan, dan pihak lain yang terkait.

Pasal 9

(2)
Pengusaha dalam melaksanakan rencana K3 didukung oleh sumber daya manusia di bidang K3, prasarana dan sarana.
(3)
Sumber daya manusia sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memiliki:
a.
kompetensi kerja yang dibuktikan dengan sertifikat; dan
b.
kewenangan di bidang K3 yang dibuktikan dengan surat izin kerja/operasi dan/atau surat penunjukkan dari instansi yang berwenang.
(4)
Prasarana dan sarana sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling sedikit terdiri dari:
a.
organisasi/unit yang bertanggung jawab di bidang K3;
b.
anggaran yang memadai;
c.
prosedur operasi/kerja, informasi, dan pelaporan serta pendokumentasian; dan
d.
instruksi kerja.

Pasal 10

(1)
Pelaksanaan rencana K3 dilakukan oleh pengusaha berdasarkan rencana K3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c dan

Pasal 11

(1)
Pengusaha dalam melaksanakan rencana K3 harus melakukan kegiatan dalam pemenuhan persyaratan K3.
(2)
Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit meliputi:
a.
tindakan pengendalian;
b.
perancangan (design) dan rekayasa;
c.
prosedur dan instruksi kerja;
d.
penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan;
e.
pembelian/pengadaan barang dan jasa;
f.
produk akhir;
g.
upaya menghadapi keadaan darurat kecelakaan dan bencana industri; dan
h.
rencana dan pemulihan keadaan darurat.
(3)
Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a sampai dengan huruf f, dilaksanakan berdasarkan identifikasi bahaya, penilaian, dan pengendalian risiko.
(4)
Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf g dan huruf h dilaksanakan berdasarkan potensi bahaya, investigasi, dan analisa kecelakaan.

Pasal 12

(1)
Pengusaha dalam melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam harus:
a.
menunjuk sumber daya manusia yang mempunyai kompetensi kerja dan kewenangan di bidang K3;
b.
melibatkan seluruh pekerja/buruh;
c.
membuat petunjuk K3 yang harus dipatuhi oleh seluruh pekerja/buruh, orang lain selain pekerja/buruh yang berada di perusahaan, dan pihak lain yang terkait;
d.
membuat prosedur informasi;
e.
membuat prosedur pelaporan; dan
f.
mendokumentasikan seluruh kegiatan.
(2)
Pelaksanaan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diintegrasikan dengan kegiatan manajemen perusahaan. # 2012, No.100 8

Pasal 13

(1)
Prosedur informasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf d harus memberikan jaminan bahwa informasi K3 dikomunikasikan kepada semua pihak dalam perusahaan dan pihak terkait di luar perusahaan.
(2)
Prosedur pelaporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf e terdiri atas pelaporan:
a.
terjadinya kecelakaan di tempat kerja;
b.
ketidaksesuaian terhadap peraturan perundang-undangan dan/atau standar;
c.
kinerja K3;
d.
identifikasi sumber bahaya; dan
e.
yang diwajibkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3)
Pendokumentasian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf f paling sedikit dilakukan terhadap:
a.
peraturan perundang-undangan di bidang K3 dan standar di bidang K3;
b.
indikator kinerja K3;
c.
izin kerja;
d.
hasil identifikasi, penilaian, dan pengendalian risiko;
e.
kegiatan pelatihan K3;
f.
kegiatan inspeksi, kalibrasi dan pemeliharaan;
g.
catatan pemantauan data;
h.
hasil pengkajian kecelakaan di tempat kerja dan tindak lanjut;
i.
identifikasi produk termasuk komposisinya;
j.
informasi mengenai pemasok dan kontraktor; dan
k.
audit dan peninjauan ulang SMK3.

Pasal 14

(1)
Pengusaha wajib melakukan pemantauan dan evaluasi kinerja K3.
(2)
Pemantauan dan evaluasi kinerja K3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melalui pemeriksaan, pengujian, pengukuran dan audit internal SMK3 dilakukan oleh sumber daya manusia yang kompeten.
(3)
Dalam hal perusahaan tidak memiliki sumber daya untuk melakukan pemantauan dan evaluasi kinerja K3 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat menggunakan jasa pihak lain.
(4)
Hasil pemantauan dan evaluasi kinerja K3 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaporkan kepada pengusaha.
(5)
Hasil pemantauan dan evaluasi kinerja K3 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan untuk melakukan tindakan perbaikan.
(6)
Pelaksanaan pemantauan dan evaluasi kinerja K3 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan/atau standar.

Pasal 15

(1)
Untuk menjamin kesesuaian dan efektifitas penerapan SMK3, pengusaha wajib melakukan peninjauan.
(2)
Peninjauan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan terhadap kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi.
(3)
Hasil peninjauan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan untuk melakukan perbaikan dan peningkatan kinerja.
(4)
Perbaikan dan peningkatan kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilaksanakan dalam hal:
a.
terjadi perubahan peraturan perundang-undangan;
b.
adanya tuntutan dari pihak yang terkait dan pasar;
c.
adanya perubahan produk dan kegiatan perusahaan;
d.
terjadi perubahan struktur organisasi perusahaan;
e.
adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk epidemiologi;
f.
adanya hasil kajian kecelakaan di tempat kerja;
g.
adanya pelaporan; dan/atau
h.
adanya masukan dari pekerja/buruh. 2012, No.100 10

Pasal 16

(1)
Penilaian penerapan SMK3 dilakukan oleh lembaga audit independen yang ditunjuk oleh Menteri atas permohonan perusahaan.
(2)
Untuk perusahaan yang memiliki potensi bahaya tinggi wajib melakukan penilaian penerapan SMK3 sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3)
Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui Audit SMK3 yang meliputi:
a.
pembangunan dan terjaminnya pelaksanaan komitmen;
b.
pembuatan dan pendokumentasian rencana K3;
c.
pengendalian perancangan dan peninjauan kontrak;
d.
pengendalian dokumen;
e.
pembelian dan pengendalian produk;
f.
keamanan bekerja berdasarkan SMK3;
g.
standar pemantauan;
h.
pelaporan dan perbaikan kekurangan;
i.
pengelolaan material dan perpindahannya;
j.
pengumpulan dan penggunaan data;
k.
pemeriksaan SMK3; dan
l.
pengembangan keterampilan dan kemampuan.
(4)
Penilaian penerapan SMK3 sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tertuang dalam pedoman yang tercantum dalam Lampiran II sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 17

(1)
Hasil audit sebagaimana dimaksud dalam dilaporkan kepada Menteri dengan tembusan disampaikan kepada menteri pembina sektor usaha, gubernur, dan bupati/walikota sebagai bahan pertimbangan dalam upaya peningkatan SMK3.
(2)
Bentuk laporan hasil audit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tertuang dalam pedoman yang tercantum dalam Lampiran III sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini.

Akses Terbatas

Anda melihat 17 dari 66 pasal. Masuk untuk akses penuh.