Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 1948 Tentang Pembatasan Pengeluaran Bahan Makanan dan Ternak dari Daerah Republik Indonesia
Dasar Hukum
Peraturan Terkait
Histori
Lampiran
Pasal 1
(1)
Pengangkutan bahan makanan tersebut dalam ayat ini keluar daerah Republik atau ke daerah Republik yang kini diduduki oleh Belanda hanya diperkenankan, apabila barang itu ternyata akan dipergunakan untuk pemakaian pengangkut serta keluarganya sendiri dan tidak melebihi jumlah tersebut dibelakang tiap-tiap macam barang:
beras 1 kg kacang tanah (terkupas) 1 kg padi 2" kacang tanah (berkulit) 2" gabah 2" kacang kedele 1" menir 1" kacang ijo 1" tepung beras 1" kacang merah 1" jagung 1" wijen (sesas) 1" beras jagung 1" bungkii 1" tepung jagung 1" gula pasir 1" gaplek 1" gula jawa 1" tepung gaplek 1" teh 0,5 kg tapioka 1" kopi 0,5 kg ketela pohong 2" minyak kelapa, kacang tanah 0,5 l (basah) atau wijen ubi jalar 2" kelapa 2 butir mi (mihun) 2" daging 0,5 kg garam 1" telor itik 5 butir ikan basah 1" telor ayam 3" ikan asin 1" kentang 1 kg lada 1" berambang atau bawang 1 kg lombok 1"
kembang pala.
(2)
Pengangkutan bahan makanan lebih dari pada jumlah tersebut dalam ayat (1) dilarang, kecuali dengan surat ijin dari Menteri Kemakmuran atau pegawai yang ditunjuk olehnya.
(3)
Sebelum memberi surat ijin termaksud dalam ayat (2) Menteri Kemakmuran atau pegawai yang ditunjuk olehnya minta pertimbangan dahulu dari Menteri Persediaan Makanan Rakyat.
(4)
Menteri Kemakmuran berhak menetapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi berhubung dengan pemberian surat ijin termaksud dalam ayat (2).
Pasal 2
(1)
Pengangkutan kuda, kerbau, sapi, kambing atau domba keluar daerah Republik atau ke daerah Republik yang kini diduduki oleh Belanda hanya diperkenankan dengan surat ijin dari Menteri Kemakmuran atau pegawai yang ditunjuk olehnya.
(2)
Menteri Kemakmuran berhak menetapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi berhubung dengan pemberian surat ijin termaksud dalam ayat (1).
Pasal 3
(1)
Barang siapa melanggar ayat (1) dan ayat (1) dihukum penjara selama-lamanya 5 (lima) tahun atau denda setinggitingginya Rp. 200.000,- (dua ratus ribu rupiah).
(2)
Pelanggaran termaksud dalam ayat (1) dianggap sebagai kejahatan.
Pasal 4
(1)
Barang yang dipergunakan untuk pelanggaran termaksud dalam ayat (1) dapat disita oleh hakim.
(2)
Barang yang disita menurut ayat (1) dijual oleh:
a.
Jawatan P.P.B.M. (Persediaan dan Pembagian Bahan Makanan), jikalau barang tersebut berupa bahan makanan;
b.
Jawatan Kehewanan, jikalau barang tersebut berupa ternak.
(3)
Oleh jawatan P.P.B.M. atau Jawatan Kehewanan termaksud dalam ayat (2) hasil bersih dari penjualan barang-barang yang disita, disetorkan dalam Kas Negeri pada hari penjualan.