Pidana

Kapolri Gandeng China Buru Dalang Lab Narkoba 1,2 Ton di Aceh

23 October 2026 · Justisio Editorial Team

Kapolri Gandeng China Buru Dalang Lab Narkoba 1,2 Ton di Aceh

Photo by Tri Vo on Unsplash

Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto langsung menuju Aceh setelah memimpin rilis pengungkapan penyelundupan 1,16 ton narkoba jenis ketamine di Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara, pada Jumat (23/10/2026). Di Aceh, ia mengecek langsung laboratorium rahasia (clandestine lab) narkotika terbesar di Indonesia yang baru saja dibongkar aparat gabungan di Pidie. Laboratorium tersebut digerebek oleh tim gabungan Bareskrim Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Direktorat Jenderal Bea Cukai.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, jaringan narkotika ini terdeteksi sejak Februari 2026. Kapolri menjelaskan bahwa jaringan asal Tiongkok mengangkut ratusan kilogram metamfetamin cair dari Myanmar utara, melintasi Laos dan Thailand, sebelum tiba di Banda Aceh pada 18 Mei 2026. Dua peracik narkoba yang merupakan warga negara China sempat transit di Malaysia dan masuk ke Banda Aceh. Pengiriman tahap kedua dilakukan pada akhir Juli 2026 dengan rute yang sama, membawa hampir 1 ton metamfetamin cair yang disamarkan dalam kaleng hijau bermerek Itanpro.

Pada 15 Oktober 2026, dua tersangka utama, LJ dan XM, melakukan perjalanan dari Kunming, China, dan bertemu dengan tersangka B, seorang warga negara Indonesia, di Kuala Lumpur. Selanjutnya, pada 17 Oktober 2026, mereka mendarat di Banda Aceh dan menuju sebuah ruko di Jenep. Tim gabungan melakukan konsolidasi penindakan pada 21 Oktober 2026 dan keesokan harinya, pada 22 Oktober 2026, melakukan penggerebekan di ruko di jalan Dayah Tanoh, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, serta empat lokasi lainnya di Bireuen, Aceh Utara, dan Lhokseumawe.

Dalam penggerebekan tersebut, petugas mengamankan sejumlah tersangka, yakni LJ, F, MY, AK, dan AY. Dari hasil penggeledahan, tim menemukan 20 drum sabu cair dan kurang lebih 500 kg sabu kristal, dengan total barang bukti mencapai 1,2 ton bruto. Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menyatakan bahwa tim gabungan masih memburu sejumlah orang yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO), meliputi pengatur lapangan berinisial Z, ES, J, BR, SS, serta berkoordinasi dengan NC City Tiongkok untuk menangkap pengendali utama berinisial LS.

Kapolri menuturkan bahwa pihaknya akan memeriksa enam ponsel yang ditemukan di tempat kejadian perkara dan menerapkan pasal tindak pidana pencucian uang (TPPU) untuk memiskinkan jaringan ini. Sebelumnya, di Belawan, aparat gabungan meringkus delapan orang kru kapal MT Global 168 yang terdiri dari tujuh warga negara Indonesia dan satu warga negara asing asal Taiwan. Kapal tersebut berhasil dicegat di perairan Tanjungbalai Asahan, Sumatera Utara, setelah terdeteksi anomali rute pergerakannya di Selat Malaka.

Berdasarkan hasil penyelidikan awal, clandestine lab di Pidie ini diduga kuat terafiliasi dengan jaringan narkoba internasional lintas negara yang melibatkan sindikat asal China, Malaysia, dan Indonesia. Kapolri menegaskan bahwa rangkaian operasi besar ini merupakan bukti keseriusan aparat dalam memberantas sindikat narkoba transnasional. Ia juga menyebut bahwa barang bukti yang disita bukan sekadar angka pencapaian, melainkan upaya menyelamatkan jutaan generasi muda bangsa.

Ke depannya, tim gabungan akan terus memburu para DPO dan berkoordinasi dengan otoritas China untuk menangkap pengendali utama. Kapolri menyatakan akan mendalami forensik digital terhadap ponsel yang diamankan serta menerapkan TPPU untuk memiskinkan jaringan narkoba ini.

Berita Lainnya